BANDUNG, ADMISI (PMB UIN SGD) — Pendidikan adalah hak asasi setiap warga negara, sebuah jaminan universal yang ditegaskan dalam UUD 1945 dan UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Semangat inklusivitas inilah yang melandasi pelaksanaan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2026. Dari total 64.479 peserta di seluruh Indonesia, terdapat 43 peserta berkebutuhan khusus yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menjemput mimpi di bangku kuliah.
UIN Sunan Gunung Djati Bandung sendiri menjadi rumah bagi 4.631 peserta ujian tahun ini. Di antara ribuan wajah penuh harap tersebut, ada 4 potret perjuangan luar biasa dari para peserta difabel yang tersebar di beberapa sesi ujian:

1. Treviadi Vitrada Nugraha (Tuna Rungu/Tuli – Sesi 5)
2. Zalza Nabila Rizaldi (Tuna Netra/Buta – Sesi 6)
3. Raisha Narendra (Tuna Netra/Buta – Sesi 7)
4. M. Fatih Nasruloh (Tuna Rungu/Tuli – Sesi 7)
Masing-masing dari mereka datang membawa cerita, kecemasan, sekaligus harapan yang sama besar.
Melawan Cemas, Menjemput Impian di Kampus Hijau
Salah satu cerita hangat datang dari Zalza Nabila Rizaldi, peserta tuna netra asal Baleendah yang mengikuti ujian pada Sesi 6. Bagi Zalza, perjalanan menuju Gedung Lecture Hall hari itu dipenuhi rasa cemas yang menggelayut sejak ia melangkah keluar dari rumah bersama kedua orang tuanya, R. Erzi Rizal dan Helga Handarawati.
Sebagai perempuan kelahiran Bandung, 10 Oktober 2006, lulusan SMA BPPI Baleendah ini sempat membayangkan suasana ujian yang kaku, asing, dan barangkali kurang ramah terhadap kondisinya.
“Sebelumnya aku nervous banget. Aku takut panitianya jutek atau nggak bisa mengerti kondisiku,” ungkap Zalza jujur saat ditemui di lokasi, Selasa (9/6/2026).
Namun, begitu menginjakkan kaki di Kampus Timur ini, kekhawatiran pemilik nomor ujian 42631902286 tersebut perlahan sirna. Panitia Admisi UIN Bandung telah bersiap sepenuhnya. Ruang ujian khusus dan sistem pendampingan yang humanis telah disiapkan agar para peserta difabel dapat berkompetisi secara adil dan nyaman.

Suara yang Menuntun Mimpi Zalza
Di balik dinding ruang ujian Sesi 6, sebuah momen haru sekaligus emosional tercipta. Bagi seorang tuna netra seperti Zalza, barisan teks di layar ujian adalah labirin yang gelap. Namun hari itu, kegelapan tersebut diterangi oleh ketulusan dua pasang mata dan suara dari panitia admisi yang mendampinginya sejak awal hingga detik terakhir ujian usai: Ratu Fayhaa Namira AND Naufal Luthfi Fakhruddin.
Dengan penuh kesabaran yang luar biasa, Ratu dan Naufal duduk di sisi Zalza. Mereka berdua membagi tugas, menjaga fokus, dan dengan artikulasi yang lembut namun jelas, membacakan soal demi soal, kata demi kata, termasuk pilihan ganda yang rumit ke telinga Zalza. Menatap Zalza yang sesekali mengerutkan dahi demi mencerna setiap kalimat pengetesan, ada rasa haru yang mendalam menyelimuti ruangan tersebut.
Tidak ada keluhan, tidak ada rasa terburu-buru. Ratu dan Naufal dengan setia menemani detak jam dinding yang terus berputar, memastikan Zalza memiliki pemahaman yang utuh atas setiap pertanyaan ujian hingga tuntas.
Perjuangan Raisha dan Fatih
Keharuan dan semangat pantang menyerah tidak berhenti di situ. Memasuki Sesi 7 yang digelar pada keesokan harinya, Rabu (10/6/2026) siang, ruang ujian kembali menjadi saksi bisu dua perjuangan yang tak kalah menggetarkan hati dari Raisha Narendra dan M. Fatih Nasruloh.

Langkah kaki Raisha Narendra, peserta tuna netra lainnya, hari itu menyimpan cerita yang sanggup membuat siapa pun terenyuh. Sejak pertama kali tiba di Gedung LH (Lecture Hall) pada hari Rabu tersebut, Raisha tidak berjalan sendiri. Ia dituntun oleh langkah setia seorang sahabatnya. Sang sahabat menggandeng tangan Raisha dengan erat, menuntunnya melewati ramainya halaman kampus, menyemangatinya di sepanjang koridor, hingga akhirnya mereka tiba di depan ruang admisi.
Namun, aturan ujian yang ketat memaksa langkah sang sahabat harus terhenti di ambang pintu. Ada tatapan berat dan pelukan penyemangat yang dilepaskan di sana, merelakan Raisha melangkah masuk sendirian ke dalam ruang penentuan demi masa depannya.
Di sinilah estafet ketulusan itu berlanjut. Begitu masuk ke dalam ruangan, beban psikologis dan kecemasan Raisha langsung didekap oleh kelembutan Natasya Putri Sanfia, panitia admisi yang telah bersiap menjadi “mata” pengganti bagi Raisha. Menyadari getaran gugup dari jemari Raisha, Natasya duduk mendekat, menjadi sandaran ketenangan yang baru.
Dengan suara yang teratur dan penuh takzim, Natasya mulai membacakan baris-baris soal di layar komputer. Kalimat-kalimat panjang yang rumit dan grafik yang tak mampu dilihat Raisha, diubah oleh Natasya menjadi untaian kata yang begitu jernih di telinga. Tak jarang Natasya mengulangi bacaannya dengan penuh kesabaran, memastikan tidak ada satu pun diksi yang terlewat agar Raisha bisa meraba maksud soal dalam pikirannya. Di antara napas tegang ruang ujian yang dingin, keikhlasan Natasya yang terus membacakan soal demi soal tanpa lelah hingga menit terakhir menjadi pelita bagi kegelapan Raisha. Di ruangan itu, Raisha tidak pernah benar-benar sendiri; ia dikelilingi oleh cinta dari seorang sahabat yang mengantarnya, dan ketulusan seorang panitia yang menuntun jemarinya hingga akhir ujian.

Sementara itu, getaran emosi yang luar biasa menyeruak di sudut lain saat melihat perjuangan M. Fatih Nasruloh, peserta tuna rungu/tuli yang didampingi oleh Nameera Shafwatul Mutmainnah pada Sesi 7 hari Rabu itu. Bagi Fatih, ujian ini berjalan dalam sunyi, namun segalanya berubah menjadi penuh perjuangan saat sistem komputer mulai memutar soal berbasis audio. Di sinilah ketulusan seorang Nameera diuji.
Mendengar suara dari Komputer yang tak mampu dijangkau oleh Fatih, Nameera dengan sigap dan penuh empati mengambil peran sebagai penyambung lidah sistem. Dengan gerakan tangan yang tegap namun lembut, Nameera menerjemahkan setiap bait kata dan maksud dari soal audio tersebut melalui bahasa isyarat. Sorot mata Nameera yang fokus, berpadu dengan gerakan jemarinya yang mencoba mengalirkan makna ke dalam dunia sunyi Fatih, menjadi pemandangan yang sangat mengharukan. Fatih mengangguk pelan, matanya berbinar setiap kali berhasil menangkap isyarat dari Nameera, lalu jemarinya dengan yakin memilih jawaban di layar komputer. Pendampingan tanpa lelah itu terus bertahan, melompati keterbatasan komunikasi, hingga soal audio terakhir selesai diterjemahkan dengan sempurna.
Dedikasi Penuh dari Seluruh Tim Admisi
Kenyamanan dan rasa aman yang dirasakan oleh para peserta difabel selama pelaksanaan ujian ini tidak lepas dari kerja keras seluruh tim pendamping dari Panitia Admisi. Selain Ratu, Naufal, Natasya, dan Nameera yang terjun langsung berjuang di dalam ruangan, nama seperti Pascal Fadhlan Mahardika serta seluruh elemen kepanitiaan juga menjadi garda terdepan di luar ruangan. Mereka memastikan mobilitas jalur, kesiapan ruangan, hingga dukungan psikologis agar seluruh rangkaian sesi ujian berjalan tanpa hambatan dari Selasa hingga Rabu berakhir.
Bagi para peserta, kehangatan ini menjadi impresi awal yang sangat mendalam tentang lingkungan kampus UIN Bandung yang mereka impikan. Ketertarikan kuat di berbagai bidang keilmuan, seperti halnya Zalza yang berbakat di dunia seni budaya serta menulis novel di platform Wattpad, membuktikan bahwa mereka datang dengan potensi besar yang siap dikembangkan.
“Aku Tuh Pengen Aktif, Walaupun Aku Berkebutuhan”
Kalimat sederhana yang sempat diucapkan Zalza saat wawancara seolah mewakili jeritan hati Raisha, Fatih, dan Treviadi. Mereka tidak ingin dipandang sebagai pengecualian yang dikasihani atau sekadar angka statistik. Mereka adalah calon-calon mahasiswa potensial yang siap belajar, berorganisasi, berkarya, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
UM-PTKIN 2026 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung telah memberikan lebih dari sekadar lembar soal ujian. Momentum ini mengirimkan pesan kuat ke luar sana: bahwa perguruan tinggi adalah ruang yang terbuka, aman, dan setara bagi siapa saja yang ingin tumbuh—tanpa terhalang oleh sekat-sekat perbedaan fisik.
Selamat berjuang untuk Zalza, Treviadi, Raisha, dan Fatih. Kampus Wahyu Memandu Ilmu menanti kontribusi dan karya nyata kalian di masa depan!

